Follow us:
0852-8523-5289 / 0813-1616-0973

LAPORAN SAFARI DAI YAMJA: SAUDARA MUALLAF

blog-detail-img.jpg
  • 5 Juni 2018
  • YAMJA
  • 07:26

Namanya Hendry. Abang kita ini muallaf. Baru setengah tahun ia memeluk Islam. Ini Ramadhan pertamanya. Dulunya, pemuda Tionghoa berusia 30-an tahun ini beragama Konghucu seperti yang dianut oleh kedua orangtuanya.

Cukup lama proses ia menjemput hidayah. Saya bukan mau bercerita tentang perjalanannya menuju Islam.

Tapi, semangatnya belajar membaca Al-Quran setiap hari ba’da Subuh mengingatkan saya akan betapa mahalnya Allah menempelkan “label harga” pada kita.

Kita yang terlahir dari keluarga Muslim, terkadang tak menyadari harga mahal diri kita itu. Namun, bagi muallaf seperti Bang Hendry ini, pasti beda kesannya.

Perjuangan beratnya hingga tiba ke pangkuan Islam, tentu membuatnya sangat menghayati makna ayat berikut ini.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.” (Ali Imran: 91)

Itulah harga iman kita yang tak terbeli oleh apapun. Emas sebesar bola bumi pun–dan itu mustahil ada manusia yang punya–tak bisa dipakai untuk “menyogok” Allah agar ia dikembalikan ke dunia untuk bersujud barang satu atau dua kali saja.

Itulah sesal tiada ujung bagi seorang hamba yang terlanjur mati dalam kondisi tak beriman kepada Allah. Tak mau ikut ajaran Muhammad Rasulullah.

WhatsApp Image 2018-06-01 at 10.07.21

Mari kita rawat selalu iman yang sudah Allah tanam dalam diri kita. Hattaa ya’tiyakal yaqiin (Hingga maut menjemput).

Harga iman kita terlampau mahal untuk ditukar dengan sekadar kenikmatan duniawi yang rendahan.* ( H.S.— Ramadhan 1439 H di Pontianak bersama KPQN dan Yayasan Amal Mulia Jakarta )

 
Tags: