Follow us:
0852-8523-5289 / 0813-1616-0973

ABDULLAH BIN MAS’UD

blog-detail-img.jpg
  • 12 Desember 2017
  • YAMJA
  • 06:22

sabuk-camels-silhouette-laikipia-kenya-christmas-safaris-460-385

Diringkas by Mysr
Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil Al-Hudzali. Kunyah beliau adalah Abu Abdurrahman. Beliau sering dinisbahkan kepada ibunya, karena ayahnya mati di zaman jahiliah, sementara ibunya masih mendapati Islam dan masuk Islam. Karena itu, ibu beliau sering digelari “Ummu Abd”, sementara Ibnu Mas’ud digelari “Ibnu Ummi Abd”. Beliau termasuk kalangan As-Sabiqunal Awwalun (para sahabat yang masuk Islam di awal dakwah), mengikuti dua hijrah, ke Habasyah dan ke Madinah. Beliau juga mengikuti Perang Badar dan beliaulah yang membunuh Abu Jahal dalam Perang Badar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada beliau, di awal dakwah, “Engkau pemuda yang terdidik.” (HR. Ahmad, no. 3599; dinilai sahih oleh Syuaib Al-Arnauth). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda tentang Ibnu Mas’ud, “Barangsiapa yang ingin membaca Alquran, asli sebagaimana ketika diturunkan, maka bacalah sebagaimana cara membaca Ibnu Ummi Abd (Ibnu Mas’ud).” (HR. Ahmad no. 35; dinyatakan sahih oleh Syuaib Al-Arnauth)

Ibnu Mas’ud pernah mengatakan tentang diri beliau, “Sesungguhnya, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengetahui bahwa aku adalah orang yang paling memahami Alquran. Demi Allah, Dzat yang tidak Tuhan yang berhak disembah selain Diri-Nya, tidaklah diturunkan satu surat pun dalam Alquran, kecuali aku mengetahui di mana surat ini turun, tentang siapa ayat ini turun. Andaikan aku mengetahui bahwa ada orang yang lebih mengetahui tentang Alquran daripada aku, dan keberadaannya bisa dijangkau dengan naik unta, niscaya aku akan mendatanginya.”

Sahabat yang memiliki postur tubuh kurus, pendek dan berkulit sawo matang ini terkenal sebagai pribadi yang lembut, cerdas, serta rapi dalam berpakaian dan memiliki aroma tubuh yang wangi. Suatu saat beliau naik pohon dan kelihatan betisnya, lalu teman-temannnya tertawa, namun Nabi Muhammad berkata, kedua betisnya itu lebih berat timbangannya di hari kiamat daripada gunung Uhud.

Sosok yang ikut hijrah bersama Rasullullah saw, baik ketika ke Habasyah maupun ke Madinah ini sangat dekat dengan keluarga Nabi saw. Beliaulah yang menyiapkan barang-barang pribadi Nabi Saw. ketika dalam perjalanan, seperti bantal, siwak, sandal dan air untuk bersuci. Bahkan beliau yang memakaikan sandal Nabi Saw. ketika mau pergi, kemudian berjalan dibelakang nabi, dan yang mencopotkan sandal Nabi saw. ketika telah sampai, lalu memasukkan sandal nabi ke lengannya untuk disimpan, dan memberi nabi tongkat ketika mau memasuki kamarnya. Tak heran jika beliau dijuluki shohibnya bantal, siwak dan kedua sandalnya nabi.
Di antara keistimewaan beliau yang lain, beliau merupakan sahabat yang selalu melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau siapkan sendal, air wudu, dan bantal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai-sampai, Abu Musa Al-Asy’ari mengatakan, “Aku dan adikku datang dari Yaman. Kemudian, (kami) datang untuk tinggal bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami mengira Ibnu Mas’ud termasuk keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena seringnya beliau dan ibunya keluar masuk rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Saking seringnya beliau berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keseharian maka tak heran jika kebiasaan beliau sangat dipengaruhi oleh sunah-sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai, Hudzaifah mengatakan, “Saya tidak melihat seseorang yang gerak-gerik dan tingkah lakunya lebih mirip dengan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam daripada Ibnu Ummi Abd.”
Di masa Khalifah Umar, beliau diutus ke Kufah untuk mengajari masyarakat tentang agama. Sementara, Umar menunjuk Ammar bin Yasir sebagai gubernur di Kufah. Umar berpesan kepada masyarakat Kufah, “Sesungguhnya, dua orang ini adalah dua sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan pilihan, maka teladani keduanya.” Kemudian, beliau ditarik ke Madinah dan meninggal di Madinah tahun 32 H, pada usia tujuh puluhan tahun. Beliau dikuburkan di Pemakaman Baqi’ di Madinah. (Ushul fi Tafsir, hlm. 52–53)

Abdullah bin Mas’ud adalah seorang yang lemah dan miskin. Ia hanyalah penggembala kambing-kambing milik Uqbah bin Mu’aith. Biasanya ia akan berjalan dengan kaki berjingkat dan kepala tunduk bila berjalan di hadapan para pembesar Quraisy. Namun setelah memeluk agama Islam, Abdullah menjadi seorang yang tidak memandang dirinya lebih rendah dibandingkan para pembesar kaum Quraisy.

Pada suatu ketika para sahabat berkumpul. Salah seorang di antara mereka berkata, “Demi Allah, orang-orang Quraisy belum pernah mendengarkan Al-Qur’an sedikit pun dengan bacaan yang keras. Siapa di antara kita yang bersedia membacakan Al-Qur’an di hadapan mereka?” Abdullah bin Mas’ud berkata, “Saya yang akan melakukan hal itu.” Namun para sahabat mengkhawatirkan keselamatan Abdullah. Mereka berharap yang memperdengarkan Al-Qur’an dihadapan kaum Quraisy, adalah orang memiliki kerabat. Dengan demikian jika para tokoh Quraisy melakukan penganiayaan, ada orang yang membelanya Namun Abdullah tetap bersikukuh.

Pada saat tokoh-tokoh quraisy mengadakan pertemua, Abdullah bin Mas’ud turut hadir. Abdullah berdiri dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an di hadapan para tokoh Quraisy. Awalnya mereka mendengarkannya dengan saksama. Mereka bertanya-tanya tentang bacaan yang diperdengarkan oleh Abdullah. Lama kelamaan mereka mengatahui bahwa bacaan itu pernah dibaca oelh Rasulullah. Menyadari hal itu , mereka langsung mendekati dan memukul Abdulah. Saat itu Abdullah masih terus membacanya.

Abdullah bin Mas’ud kembali ketempat para sahabat dalam keadaan terluka, bukannya jera, Abdullah justru menyatakan bahwa dirinya bersedia kembali ke tempat pertemuan para tokoh Quraisy, jika para sahabat menghendakinya, bahkan Abdullah bin Mas’ud berani mendatangi majelis yang diadakan oleh para tokoh Quraisy. Di sana, ia membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara yang merdu. Pada awalnya para tokoh Quraisy tampak takjub dengan kemerduan suara Abdullah. Namun lama kelamaan, mereka menyadari bahwa ayat-ayat itu adalah milik Nabi Muhammad.

Abdullah bin Masud adalah salah satu sahabat yang pernah mendapatkan doa khusus dari nabi yang pernah mengusap kepalanya seraya berdoa “semoga Allah merahmatimu, sungguh kamu adalah anak pemuda yang pengajar. Abdullah bin Mas’ud menghembuskan nafas terakhirnya pada usia ke 63 di Madinah, dan proses sholat jenazahnya dipimpin oleh Zubair bin Awwam sesuai permintaan terakhirnya sebelum wafat, dan dimakamkan di Baqi’ tahun 32 H.

 
Tags: